Di dunia investasi yang serba cepat, di mana harga saham naik-turun setiap detik dan banyak orang tergoda melakukan trading harian, ada satu strategi klasik yang tetap relevan dari masa ke masa: strategi “Buy and Hold.”
Strategi ini menjadi ciri khas investor legendaris Warren Buffett, sosok yang dikenal sebagai salah satu orang terkaya di dunia sekaligus guru besar dalam hal value investing. Buffett sering berkata:
“Waktu terbaik untuk membeli saham adalah ketika Anda menemukan perusahaan hebat — dan waktu terbaik untuk menjualnya adalah tidak pernah.”
Apa sebenarnya arti dari “Buy and Hold”? Mengapa strategi ini bisa membawa hasil luar biasa dalam jangka panjang? Dan bagaimana Anda bisa menerapkannya secara efektif? Mari kita bahas tuntas dalam artikel ini, dilengkapi dengan data dan fakta terbaru hingga tahun 2026.
Apa Itu Strategi “Buy and Hold”?
Secara sederhana, strategi “Buy and Hold” berarti membeli saham atau aset investasi berkualitas tinggi, kemudian menahannya dalam jangka waktu lama, terlepas dari fluktuasi harga jangka pendek.
Tujuan utamanya bukan untuk mencari keuntungan cepat, melainkan untuk:
-
Menikmati pertumbuhan nilai (capital gain) dari waktu ke waktu.
-
Mendapatkan dividen atau hasil investasi pasif.
Investor Buy and Hold percaya bahwa waktu di pasar lebih penting daripada timing pasar. Artinya, konsistensi dan kesabaran jauh lebih berharga daripada mencoba menebak kapan harga naik atau turun.
Filosofi di Balik Strategi “Buy and Hold”
Bagi Warren Buffett, investasi bukan soal menebak harga, melainkan membeli bisnis yang hebat dengan harga yang wajar. Dia pernah mengatakan:
“Jika Anda tidak berencana memegang saham selama 10 tahun, jangan pernah berpikir untuk memilikinya selama 10 menit.”
Filosofi ini berakar pada tiga prinsip utama:
-
Nilai bisnis lebih penting dari harga saham. Fokus pada perusahaan dengan fundamental kuat, bukan sekadar tren jangka pendek.
-
Pasar jangka pendek bersifat emosional, tapi jangka panjang rasional. Harga bisa naik-turun karena berita, tetapi nilai sejati akan terungkap seiring waktu.
-
Waktu adalah sekutu investor yang sabar. Pertumbuhan laba dan dividen akan menghasilkan efek compounding luar biasa jika diberi waktu.
📊 Fakta dan Data Terbaru: Bukti Kekuatan Buy and Hold
1. Kinerja Luar Biasa dalam Jangka Panjang
Data historis membuktikan kekuatan strategi ini. Antara tahun 1926 hingga November 2025, investasi US$1 di saham large-cap AS (S&P 500) akan tumbuh menjadi US$21.431 — dibandingkan dengan US$3.938 untuk portofolio seimbang (60% saham : 40% obligasi) dan hanya US$25 untuk uang tunai (T-bills 1-3 bulan).
Sementara itu, antara tahun 2022 hingga 2025, saham global mencatat total return sekitar 41%, sedangkan saham S&P 500 di periode yang sama mencapai 51%.
2. Investor “Mati” Mengalahkan Investor “Hidup”
Sebuah studi yang dilaporkan oleh CNBC pada tahun 2025 menunjukkan bahwa investor “mati” — istilah untuk investor yang mengadopsi strategi buy and hold pasif — sering kali mengalahkan investor aktif. Pasalnya, strategi ini menghindari biaya transaksi tinggi, pajak, dan keputusan impulsif berbasis emosi.
Data dari DALBAR menunjukkan bahwa rata-rata return investor saham tertinggal 5,5 poin persentase dari indeks S&P 500 pada tahun 2023 (rata-rata investor meraih sekitar 21% sementara S&P 500 meraih 26%). Dalam dekade 2014-2023, rata-rata investor reksa dana AS hanya meraih 6,3% per tahun, padahal rata-rata return dananya mencapai 7,3% — artinya investor kehilangan sekitar 15% dari potensi keuntungan selama 10 tahun hanya karena perilaku jual-beli yang tidak tepat.
3. Peringatan Penting dari Riset 2026
Namun, ada catatan penting dari riset terbaru. Hendrik Bessembinder dari Arizona State University memperbarui penelitiannya hingga Desember 2025 dan menemukan bahwa hanya 48,2% saham yang menghasilkan return buy-and-hold positif selama periode Januari 1926 hingga Desember 2025. Bahkan, median return buy-and-hold untuk saham individual AS selama 100 tahun terakhir adalah –6,9%.
Artinya: tidak semua saham layak dipegang selamanya. Kunci sukses Buy and Hold bukan sekadar “beli dan lupakan,” tetapi memilih saham yang tepat — perusahaan dengan fundamental kuat dan keunggulan kompetitif jangka panjang.
Keunggulan Strategi Buy and Hold
1. Menghindari Perangkap Emosi
Investor jangka pendek sering terjebak oleh ketakutan (fear) dan keserakahan (greed). Dengan strategi “Buy and Hold”, Anda belajar fokus pada nilai jangka panjang dan tidak mudah panik saat pasar bergejolak. Seperti yang dikatakan seorang pakar keuangan: “Kita adalah musuh terburuk kita sendiri, dan itulah mengapa investor mati mengalahkan investor hidup.”
2. Manfaat dari Compound Interest
Seiring waktu, keuntungan investasi yang diinvestasikan kembali akan menghasilkan bunga berbunga (compounding effect). Inilah yang membuat kekayaan tumbuh secara eksponensial.
3. Biaya Transaksi Lebih Rendah
Karena jarang jual-beli, investor Buy and Hold menghemat biaya broker, pajak, dan potensi kerugian akibat keputusan impulsif.
4. Terbukti Efektif dari Waktu ke Waktu
Strategi ini sudah teruji selama puluhan tahun — bahkan dalam berbagai krisis ekonomi. Buffett tetap membeli dan menahan saham-saham seperti Coca-Cola, American Express, dan Apple selama puluhan tahun dengan hasil luar biasa. Gaya investasi buy and hold Buffett telah menghasilkan imbal hasil tahunan majemuk 19,9%, dibandingkan dengan imbal hasil tahunan majemuk S&P 500 sebesar 10,4%.
🆕 Update Terbaru: Warren Buffett dan Era Baru Berkshire Hathaway
Buffett Pensiun, Filosofi Tetap Hidup
Pada akhir tahun 2025, Warren Buffett resmi melepas jabatan CEO Berkshire Hathaway setelah lebih dari lima dekade memimpin konglomerat tersebut. Dalam surat perpisahannya kepada pemegang saham—yang disebut sebagai Thanksgiving letter terakhirnya—Buffett mengumumkan bahwa ia akan “going quiet” dan tidak lagi menulis laporan tahunan Berkshire.
Namun, filosofi buy and hold tetap hidup. Penerus pilihannya, Greg Abel, terus menerapkan prinsip yang sama. Menurut laporan terbaru, 58% hingga 67% portofolio saham Berkshire Hathaway saat ini terkonsentrasi pada hanya 5 saham, termasuk Apple, American Express, Coca-Cola, Bank of America, dan Chevron. Per 2026, nilai portofolio Berkshire Hathaway tercatat sekitar US$263 miliar dengan rata-rata return sejak filing 13F terakhir sebesar 7,42%.
Buffett Tambah Holding “Forever”
Pada tahun 2025, Buffett mengonfirmasi bahwa Berkshire Hathaway akan memegang saham dua perusahaan Jepang—yang dibelinya dengan estimasi US$170 juta—setidaknya selama 50 tahun ke depan. Ini membuktikan bahwa komitmen terhadap strategi jangka panjang tetap menjadi inti filosofi investasi Berkshire, bahkan di era kepemimpinan baru.
Rekor Kas US$358 Miliar
Menjelang pensiun, Berkshire Hathaway dilaporkan memiliki kas rekor US$358 miliar—lebih besar dari kapitalisasi pasar banyak perusahaan S&P 500. Ini menunjukkan bahwa meskipun menganut buy and hold, Buffett dan timnya tetap disiplin menunggu harga yang tepat sebelum membeli.
📈 Kinerja Pasar Terkini (2025–2026)
Pasar Global
-
S&P 500 mencatat return 17,9% sepanjang 2025. Sementara itu, saham internasional melonjak lebih dari 30%.
-
Ekspektasi pertumbuhan laba S&P 500 tahun 2025 sekitar 11% dan diproyeksikan 10% pada 2026.
-
Pada kuartal kedua 2026, S&P 500 naik hampir 15%—kinerja kuartalan terbaik sejak pemulihan COVID-19 tahun 2020. Dengan kenaikan sekitar 10% di semester pertama 2026, indeks ini berada di jalur untuk tahun keempat berturut-turut dengan pertumbuhan dua digit.
Pasar Indonesia
-
IHSG mencatat penguatan 22,13% secara tahunan pada 2025, menutup perdagangan di level 8.646,94. Ini merupakan kinerja tahunan terkuat IHSG sejak 2014.
-
Namun, pertumbuhan ini masih terkonsentrasi pada saham-saham tertentu. Indeks LQ45 hanya tumbuh 2,41% sepanjang 2025, menunjukkan bahwa kenaikan IHSG belum merata.
-
Kontribusi pasar saham terhadap PDB Indonesia melonjak dari 56% pada akhir 2024 menjadi 72% pada akhir 2025.
-
Porsi transaksi investor ritel meningkat dari 38% menjadi 50% sepanjang 2025.
Proyeksi 2026
Berbagai lembaga keuangan memberikan proyeksi beragam untuk 2026. Charles Schwab memperkirakan imbal hasil tahunan saham large-cap AS dalam dekade mendatang sekitar 5,9%, sementara konsensus perkiraan dari Morningstar untuk 2026 berada di kisaran 3,5% hingga 5,5% per tahun.
Kapan Strategi Ini Cocok Diterapkan?
Strategi Buy and Hold paling cocok untuk:
-
Investor jangka panjang (5 tahun ke atas).
-
Mereka yang percaya pada potensi pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
-
Orang yang tidak punya waktu untuk trading harian.
-
Investor dengan mental sabar dan disiplin.
Namun, penting untuk dicatat: strategi ini bukan berarti “beli lalu lupa.” Anda tetap perlu memantau fundamental bisnis yang Anda miliki — pastikan perusahaan masih sehat dan kompetitif. Riset Bessembinder menunjukkan bahwa median saham hanya bertahan 6,8 tahun dalam datanya—baik karena diakuisisi, delisting, maupun mengalami kesulitan bisnis.
🚨 Tantangan dan Kritik terhadap Buy and Hold di 2026
Tidak ada strategi yang sempurna. “Buy and Hold” juga memiliki beberapa risiko dan tantangan yang perlu disadari:
-
Fundamental Perusahaan Bisa Berubah. Jika bisnis mulai menurun atau kehilangan daya saing, Anda perlu mengevaluasi kembali kepemilikan Anda.
-
Tidak Cocok untuk Semua Profil Risiko. Investor yang butuh likuiditas tinggi (misalnya dana pendidikan anak dalam waktu dekat) sebaiknya tidak menaruh seluruh uangnya dalam saham jangka panjang.
-
Perlu Ketahanan Mental. Saat pasar turun tajam, butuh keberanian untuk tetap tenang dan tidak menjual di harga rendah.
-
Tantangan di Pasar Indonesia. Beberapa analis, seperti tim riset Kiwoom, berpendapat bahwa strategi buy and hold tradisional berpotensi tergerus inflasi dan volatilitas di tahun 2026—yang dijuluki Tahun Kuda Api—dengan rotasi sektor yang sangat cepat. Mereka merekomendasikan pendekatan active rebalancing dan momentum play sebagai pelengkap.
-
Volatilitas Tinggi. Dalam pasar yang sangat volatil, strategi buy and hold dapat menghasilkan return yang lebih rendah—semakin tinggi volatilitas, semakin besar drag terhadap kinerja.
Kunci Sukses Buy and Hold ala Warren Buffett
1. Fokus pada Perusahaan, Bukan Harga
Buffett selalu menilai saham sebagai bagian dari bisnis, bukan sekadar simbol di layar. Pilih perusahaan yang:
-
Punya model bisnis jelas dan sederhana.
-
Memiliki keunggulan kompetitif jangka panjang (moat).
-
Dikelola oleh tim manajemen yang kompeten dan jujur.
2. Beli di Harga yang Wajar
Bahkan bisnis hebat tidak layak dibeli jika harganya terlalu mahal. Buffett sering menunggu momen ketika harga pasar “salah menilai” perusahaan bagus — di situlah peluang besar muncul.
3. Bersabar dan Tidak Panik
Pasar selalu bergerak naik-turun, tapi investor sejati tahu bahwa volatilitas adalah teman, bukan musuh. Buffett berkata:
“Pasar saham adalah alat untuk memindahkan uang dari yang tidak sabar ke yang sabar.”
4. Gunakan Prinsip Compounding
Biarkan keuntungan Anda bekerja untuk Anda. Dividen yang diterima sebaiknya diinvestasikan kembali agar nilai portofolio terus tumbuh tanpa batas.
Contoh Nyata: Buffett dan Coca-Cola
Warren Buffett membeli saham Coca-Cola (KO) pada akhir 1980-an. Saat itu banyak orang menganggap saham ini sudah “mahal,” namun Buffett melihat potensi jangka panjang perusahaan global dengan merek kuat dan loyalitas pelanggan tinggi.
Lebih dari 30 tahun kemudian:
-
Harga sahamnya naik berlipat-lipat.
-
Dividen yang diterima setiap tahun jauh lebih besar dari modal awal.
Buffett tidak menjual saham itu hingga sekarang, karena ia percaya pada kekuatan bisnisnya. Hingga portofolio terbaru Berkshire tahun 2026, Coca-Cola masih menjadi salah satu dari lima holding terbesar dengan nilai sekitar US$30,4 miliar atau 11,56% dari portofolio. Inilah contoh sempurna strategi Buy and Hold yang berhasil menghasilkan kekayaan berkelanjutan.
Risiko dan Keterbatasan Strategi Buy and Hold
Tidak ada strategi yang sempurna. “Buy and Hold” juga memiliki beberapa risiko yang perlu disadari:
-
Fundamental Perusahaan Bisa Berubah. Jika bisnis mulai menurun atau kehilangan daya saing, Anda perlu mengevaluasi kembali kepemilikan Anda. Riset Bessembinder 2026 menunjukkan bahwa median saham hanya bertahan 6,8 tahun—artinya banyak saham yang tidak layak dipegang selamanya.
-
Tidak Cocok untuk Semua Profil Risiko. Investor yang butuh likuiditas tinggi sebaiknya tidak menaruh seluruh uangnya dalam saham jangka panjang.
-
Perlu Ketahanan Mental. Saat pasar turun tajam, butuh keberanian untuk tetap tenang dan tidak menjual di harga rendah.
-
Tantangan di Pasar Indonesia 2026. Beberapa analis memperingatkan bahwa strategi buy and hold tradisional mungkin menghadapi tantangan di tengah rotasi sektor yang cepat dan volatilitas tinggi.
Kesimpulan
Strategi “Buy and Hold” bukan hanya cara berinvestasi, tapi juga gaya hidup finansial yang berlandaskan kesabaran dan keyakinan. Anda tidak perlu menebak arah pasar setiap hari — cukup temukan bisnis hebat, beli dengan harga wajar, dan biarkan waktu bekerja untuk Anda.
“Waktu adalah teman dari bisnis yang luar biasa, dan musuh bagi yang biasa-biasa saja.”
— Warren Buffett
Dengan strategi Buy and Hold, Anda membiarkan kekayaan tumbuh secara alami, perlahan, dan pasti — bukan karena spekulasi, tapi karena keyakinan jangka panjang pada nilai sejati sebuah bisnis.
Namun, ingatlah pesan penting dari riset terbaru: buy and hold hanya efektif jika Anda memilih saham yang tepat dan terus memantau fundamentalnya. Seperti yang ditunjukkan oleh data Bessembinder 2026—hanya 48,2% saham yang memberikan return positif dalam 100 tahun terakhir. Jadi, bukan sekadar “beli dan lupakan,” tetapi “beli, pantau, dan tahan selama fundamentalnya masih kuat.”
Dengan pendekatan yang disiplin dan sabar, Anda bisa menjadi bagian dari mereka yang memanfaatkan kekuatan compounding untuk membangun kekayaan jangka panjang—seperti yang telah dibuktikan oleh Warren Buffett selama lebih dari enam dekade.
Kata Kunci SEO yang Disarankan: strategi buy and hold, investasi jangka panjang, Warren Buffett, value investing, cara investasi saham, compounding, investasi ala Warren Buffett, Berkshire Hathaway 2026, Greg Abel, IHSG 2025

