Dalam dunia investasi saham, ada dua kubu besar yang sering dipertentangkan: Value Investing (mencari saham murah) dan Growth Investing (mencari saham dengan pertumbuhan tinggi). Dalam beberapa tahun terakhir, growth investing semakin populer, terutama di kalangan investor muda yang mengincar keuntungan besar dalam waktu relatif singkat.
Growth investing adalah strategi membeli saham perusahaan yang memiliki potensi pertumbuhan pendapatan dan laba di atas rata-rata pasar, meskipun harga sahamnya saat ini terlihat mahal. Strategi ini mirip dengan “berburu harta karun”—Anda mencari perusahaan masa depan sebelum orang lain menyadarinya.
Namun, apakah strategi ini cocok untuk Anda? Mari kita bahas tuntas.
Apa Itu Growth Investing?
Growth investing adalah pendekatan investasi yang fokus pada perusahaan dengan fundamental kuat yang menunjukkan peningkatan pendapatan (revenue) dan laba bersih (net income) secara signifikan dari tahun ke tahun. Investor growth percaya bahwa kinerja superior ini akan terus berlanjut, sehingga harga saham akan melonjak tinggi di masa depan.
Berbeda dengan investor value yang mencari saham dengan Price to Earnings Ratio (PER) rendah, investor growth rela membayar premium (PER tinggi) karena yakin dengan prospek ekspansi bisnis.
Contoh Sederhana:
-
Perusahaan Value: Toko kelontong dengan pertumbuhan laba 5% per tahun, dijual dengan PER 8x.
-
Perusahaan Growth: Perusahaan software as a service (SaaS) dengan pertumbuhan laba 50% per tahun, dijual dengan PER 50x.
Investor growth akan memilih perusahaan SaaS karena potensi keuntungan 2-3 kali lipat dalam 5 tahun, meskipun risikonya lebih besar.
Karakteristik Saham Growth (Pertumbuhan Tinggi)
Sebelum “berburu”, Anda harus tahu ciri-ciri saham growth. Tidak semua saham teknologi atau saham mahal otomatis growth. Berikut karakteristik utamanya:
-
Pertumbuhan Pendapatan & Laba > 20% per tahun – Konsisten minimal 3-5 tahun terakhir.
-
Margin Laba yang Membaik – Efisiensi biaya meningkat seiring skala usaha.
-
Reinvestasi Laba – Perusahaan lebih memilih mengembangkan bisnis daripada membayar dividen.
-
Keunggulan Kompetitif (Moat) – Inovasi, merek kuat, atau teknologi yang sulit ditiru.
-
Beroperasi di Pasar Besar (TAM – Total Addressable Market) – Masih ada ruang ekspansi besar.
-
Valuasi Premium – PER, PBV, dan EV/EBITDA di atas rata-rata industri.
Catatan Penting: Saham growth jarang membagikan dividen karena laba diinvestasikan kembali. Jadi, investor hanya mendapat untung dari capital gain.
Indikator Kunci Mencari Saham Growth (Checklist)
Gunakan daftar periksa ini saat menganalisis calon saham growth:
1. Revenue Growth (Pertumbuhan Pendapatan)
Lihat pertumbuhan tahunan (YoY) dan kuartalan (QtQ). Minimal 20% per tahun. Cek juga sumber pertumbuhan: organik (dari penjualan) atau akuisisi?
2. Earnings Growth (Pertumbuhan Laba)
Pertumbuhan laba bersih per saham (EPS) sebaiknya sejalan atau lebih tinggi dari pendapatan. Waspada jika laba tumbuh tapi pendapatan stagnan (bisa karena efisiensi jangka pendek).
3. Profit Margin (Margin Laba)
Bandingkan margin kotor, operasional, dan bersih dari waktu ke waktu. Seharusnya cenderung naik atau stabil. Margin di atas 15-20% untuk perusahaan non-komoditas adalah sinyal bagus.
4. Return on Equity (ROE)
ROE > 15% mengindikasikan perusahaan efisien dalam menghasilkan laba dari modal pemegang saham. Saham growth biasanya punya ROE tinggi.
5. Debt to Equity (DER)
Hindari utang berlebihan. Pilih perusahaan dengan DER di bawah 100% (atau sesuai industri). Perusahaan growth idealnya membiayai ekspansi dari laba ditahan atau ekuitas, bukan utang.
6. Inovasi & Tren Industri
Apakah perusahaan berada di industri yang sedang naik daun? Contoh: teknologi digital, energi terbarukan, kesehatan, e-commerce, fintech, AI, dan otomotif listrik.
Kelebihan dan Risiko Growth Investing
Seperti strategi lain, growth investing punya dua sisi mata uang.
✅ Kelebihan:
-
Potensi return tidak terbatas – Saham bisa naik puluhan bahkan ratusan persen dalam beberapa tahun.
-
Cocok untuk pasar bullish – Di masa optimisme, saham growth menjadi pemimpin pasar.
-
Menyenangkan untuk dipelajari – Anda akan terus update dengan inovasi dan tren baru.
⚠️ Risiko:
-
Volatilitas sangat tinggi – Harga bisa turun 30-50% dalam hitungan minggu saat sentimen berubah.
-
Rentan terhadap suku bunga tinggi – Suku bunga naik membuat valuasi saham growth terkoreksi berat.
-
Harus jeli dan cepat – Prediksi pertumbuhan bisa meleset. Jika perusahaan gagal memenuhi ekspektasi, saham bisa hancur.
Peringatan: Banyak investor pemula terbakar oleh saham growth karena membeli di puncak euforia dan menjual di titik terendah panic selling.
Strategi Growth Investing untuk Pemula
Berikut panduan aman memulai growth investing:
1. Gunakan Metode DCA (Dollar Cost Averaging)
Daripada investasi sekaligus, beli secara berkala (misal setiap bulan). Ini mengurangi risiko membeli di harga puncak.
2. Diversifikasi Sektor
Jangan hanya fokus ke 1-2 sektor. Kombinasikan teknologi, kesehatan, konsumen, dan industri baru lainnya.
3. Tetapkan Target Holding Period
Saham growth butuh waktu untuk mewujudkan potensinya. Idealnya 3-5 tahun. Jual jika fundamental memburuk (pertumbuhan melambat 2 kuartal berturut-turut).
4. Gunakan Stop Loss Mental
Misalnya, cut loss jika saham turun 20% dari harga beli dan tidak ada kabar baik. Jangan biarkan kerugian membengkak.
5. Pelajari Valuasi Relatif
Bandingkan PER suatu saham dengan PER historisnya dan rata-rata industri. Hindari membeli saat PER berada di zona tertinggi sepanjang masa tanpa alasan kuat.
Kesalahan Umum dalam Growth Investing (Hindari!)
-
Mengabaikan arus kas – Perusahaan tumbuh cepat tapi arus kas negatif terus menerus berbahaya.
-
Terjebak hype media sosial – Bukan karena saham ramai di Twitter atau TikTok berarti bagus.
-
Lupa mengambil profit – Jangan serakah. Jual sebagian saat keuntungan sudah 100-200%.
-
Tidak membaca laporan keuangan – Analisis teknikal saja tidak cukup. Fundamental adalah segalanya.
-
Memaksakan growth di pasar bearish – Saat pasar sedang turun, strategi growth akan sangat menyakitkan. Saatnya lebih defensif.
Contoh Saham Growth di Indonesia (Ilustrasi)
Disclaimer: Berikut bukan rekomendasi beli/jual. Hanya contoh berdasarkan karakteristik growth.
Beberapa sektor yang menawarkan peluang growth di Bursa Efek Indonesia:
-
Teknologi & Digital (emiten seperti PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk, PT Digital Mediatama Maxima Tbk, dll)
-
Kesehatan & Farmasi (emiten dengan produk inovatif dan ekspansi rumah sakit)
-
Consumer Non-Cyclical (makanan/minuman dengan pangsa pasar luas)
-
Energi Terbarukan & EV (industri pendukung kendaraan listrik dan pembangkit hijau)
Sebelum membeli, pastikan Anda telah menganalisis laporan keuangan minimal 3-5 tahun terakhir dan proyeksi industri ke depan.
Kesimpulan: Apakah Growth Investing Cocok untuk Anda?
Growth investing adalah strategi berisiko tinggi dengan imbalan tinggi. Cocok untuk investor yang:
-
Memiliki toleransi risiko besar.
-
Memiliki waktu pantau rutin (minimal mingguan).
-
Percaya pada inovasi dan masa depan industri tertentu.
-
Tidak butuh uang tersebut dalam 3-5 tahun ke depan.
Sebaliknya, jika Anda investor pemula dengan dana terbatas, cemas melihat fluktuasi besar, atau butuh dividen rutin, maka value investing atau dividend investing mungkin lebih sesuai.
Pada akhirnya, kombinasi kedua strategi (growth at a reasonable price atau GARP) seringkali menjadi pendekatan paling bijak untuk jangka panjang.
FAQ (Pertanyaan Umum)
Q: Apakah saham growth selalu saham teknologi?
Tidak. Banyak perusahaan konsumen, kesehatan, atau industri baru yang juga tumbuh tinggi.
Q: Berapa lama idealnya hold saham growth?
Minimal 3-5 tahun. Kecuali fundamental memburuk, sebaiknya jangan trading harian.
Q: Aplikasi apa yang cocok untuk investasi growth?
Semua aplikasi broker resmi di Indonesia (IPOT, Stockbit, BNI Sekuritas, dll) bisa digunakan. Yang penting Anda bisa akses laporan keuangan dan data historis.
Q: Bisakah growth investing dilakukan di rekening dana pensiun?
Bisa, asalkan porsi alokasi ke saham growth tidak lebih dari 30-40% dari total portofolio pensiun Anda.

