Pasar komoditas global dihebohkan dengan keputusan mengejutkan Pemerintah Indonesia. Harga nikel dunia mendadak meroket setelah Indonesia secara resmi memangkas drastis kuota produksi PT Weda Bay Nickel, tambang nikel terbesar di dunia yang berlokasi di Pulau Halmahera, Maluku Utara.
Langkah strategis ini tidak hanya mengerek harga nikel di bursa global, tetapi juga memicu rally harga di sejumlah logam dasar lainnya.
Pemangkasan 62%: Dari 32 Juta Ton Menjadi 12 Juta Ton
Pemicu utama lonjakan harga adalah pengumuman dari perusahaan tambang asal Prancis, Eramet. Disebutkan bahwa tambang Weda Bay—usaha patungan antara Eramet, raksasa baja China Tsingshan, dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)—hanya mendapatkan kuota awal sebesar 12 juta ton basah untuk tahun 2026.
Angka ini merosot tajam sebesar 62,5% dibandingkan realisasi kuota tahun sebelumnya yang mencapai 32 juta ton basah.
Meskipun Eramet menyatakan akan segera mengajukan revisi kenaikan kuota, keputusan awal pemerintah ini telah menyuntikkan sentimen bullish (optimisme harga tinggi) di kalangan pelaku pasar.
Harga Nikel Tembus Level Psikologis
Dampak pemangkasan kuota langsung terasa di lantai bursa:
-
Shanghai Futures Exchange (SHFE): Kontrak nikel paling aktif melambung 1,79% dan ditutup di level 139.610 yuan (sekitar USD20.228) per ton. Di awal sesi, harga bahkan sempat melesat hingga 3,14%.
-
London Metal Exchange (LME): Harga nikel untuk kontrak tiga bulan naik 0,34% ke USD17.940 per ton, melanjutkan penguatan 2,23% pada sesi sebelumnya.
Analis StoneX, Natalie Scott-Gray, menegaskan bahwa pemangkasan kuota ini menjadi katalis utama. “Kedua langkah ini mendorong sentimen pasar, dan harga diperkirakan tetap didukung dalam jangka pendek,” ujarnya.
Strategi Indonesia di Balik Pengendalian Harga
Fakta menarik terungkap di tengah reli harga ini. Scott-Gray menambahkan bahwa Indonesia secara historis berupaya mencegah harga nikel bertahan di atas USD18.000 per ton. Target utama kebijakan ini adalah untuk menjaga daya saing sektor kendaraan listrik (EV) domestik.
Dengan membatasi pasokan dari tambang raksasa seperti Weda Bay, pemerintah dinilai tengah bermain “tarik ulur” untuk menjaga keseimbangan antara pendapatan negara, keberlanjutan sumber daya, dan industri hilirisasi.
Laporan media lokal juga menyebutkan bahwa total kuota penambangan nikel yang telah disetujui pemerintah untuk tahun 2026 berkisar antara 260 juta hingga 270 juta ton, angka yang relatif terkendali dibandingkan potensi produksi nasional.
Bukan Hanya Nikel: Logam Lain Ikut Terbakar
Kabar baik dari sektor nikel turut merembet ke komoditas logam lainnya. Depresiasi Dolar AS turut menjadi angin segar karena membuat komoditas berdenominasi greenback lebih murah bagi pemegang mata uang lain.
Performa Logam Dasar di Bursa Shanghai (SHFE):
-
Tembaga: Naik 0,39% ke 102.330 yuan/ton.
-
Seng (Zinc): Menguat 0,67%.
-
Timah: Melonjak 0,88%.
-
Aluminium: Naik tipis 0,15%.
-
Timbal (Lead): Menjadi satu-satunya yang melemah 0,15%.
Sementara itu di London Metal Exchange (LME), aluminium menguat 0,89%, seng naik 0,41%, dan timah bertambah 0,36%.
Kesimpulan: Akankah Rally Berlanjut?
Keputusan Indonesia memangkas kuota Weda Bay menjadi pengingat betapa dominannya peran Indonesia dalam rantai pasok nikel global. Dalam jangka pendek, harga diprediksi masih akan bertahan di level tinggi.
Namun, pelaku pasar tetap waspada terhadap potensi revisi kuota yang akan diajukan Eramet. Jika pemerintah menyetujui tambahan kuota di tengah tahun, tekanan koreksi harga bisa saja terjadi.
Yang jelas, Indonesia saat ini memegang kunci utama fluktuasi harga nikel dunia.
Kata Kunci: Harga Nikel, Weda Bay, Kuota Nikel 2026, LME Nikel, SHFE, Eramet, Tsingshan, ANTM, Komoditas Tambang, Hilirisasi Nikel.

