Di tengah dinamika pasar modal yang berfluktuasi secara signifikan, tiga emiten raksasa yang terafiliasi dengan Grup Salim—yakni PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP)—mengambil langkah strategis dengan mengumumkan rencana pembelian kembali (buyback) saham.
Aksi korporasi ini tidak main-main. Masing-masing emiten mengalokasikan dana maksimal Rp750 miliar, sehingga total anggaran yang disiapkan oleh ketiga emiten Grup Salim ini mencapai Rp2,25 triliun. Pelaksanaan buyback dijadwalkan berlangsung mulai 26 Oktober hingga 31 Desember 2026.
Detail Rencana dan Landasan Hukum Buyback
Keputusan buyback ini diambil merujuk pada regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), khususnya Peraturan OJK Nomor 13 Tahun 2023 tentang Kebijakan dalam Menjaga Kinerja dan Stabilitas Pasar Modal pada Kondisi Pasar Saham yang Berfluktuasi Secara Signifikan, serta Surat OJK No. S-112/D.04/2026.
Berikut adalah poin-poin penting dari pelaksanaan buyback ketiga emiten tersebut:
-
Sumber Dana: Sepenuhnya berasal dari kas internal masing-masing perusahaan. Anggaran maksimal Rp750 miliar per emiten belum termasuk biaya transaksi, perantara perdagangan, dan biaya lain terkait.
-
Periode Eksekusi: 26 Oktober 2026 hingga 31 Desember 2026.
-
Mekanisme: Pembelian dilakukan melalui perdagangan di Bursa dengan menunjuk satu anggota Bursa. Volume transaksi harian tidak dibatasi, dengan tetap memperhatikan harga yang dianggap baik dan wajar serta aturan free float yang berlaku.
-
Ketentuan ICBP: Jumlah saham ICBP yang akan dibeli kembali tidak lebih dari 20% dari modal disetor perusahaan.
Pergerakan Harga Saham ICBP, INDF, dan LSIP Pasca Pengumuman
Sejak rencana buyback diumumkan pada akhir Oktober 2026, pergerakan saham ketiga emiten menunjukkan respons pasar yang beragam:
-
PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP): Menunjukkan performa paling moncer dengan penguatan mingguan (dalam 5 hari perdagangan) mencapai 17,6%, di mana pada perdagangan terakhir tercatat naik 1,73% ke level Rp1.470 per saham.
-
PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF): Mencatatkan tren positif dengan kenaikan 5 harian sebesar 3,85% dan ditutup menguat 1,89% ke level Rp6.750 per saham.
-
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP): Mengalami sedikit koreksi 5 harian sebesar 0,42% ke level Rp5.975 per saham di tengah penjelasan resmi manajemen kepada BEI terkait volatilitas transaksi.
Aksi Akumulasi Saham ICBP oleh INDF
Selain rencana buyback massal, manajemen ICBP juga melaporkan adanya aktivitas pembelian saham oleh pemegang saham utamanya, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).
Pada periode 19–21 Oktober 2026, INDF telah memborong sebanyak 3.350.000 lembar saham ICBP (setara 0,03%) melalui Bursa. Aksi akumulasi ini mendongkrak porsi kepemilikan INDF di ICBP dari semula 9.391.678.000 lembar saham (80,53%) menjadi 9.395.028.000 lembar saham (80,56%).
Manajemen menegaskan bahwa transaksi tersebut tidak memicu kewajiban pelaporan perubahan kepemilikan khusus sesuai Pasal 2 ayat (5) dan (6) POJK No. 4/2024, dan saat ini INDF belum memiliki rencana aksi tambahan lain terkait porsi kepemilikannya di ICBP.
Dampak Keuangan dan Kinerja Fundamental
Berdasarkan proforma keuangan yang disampaikan oleh masing-masing perusahaan, manajemen memastikan bahwa aksi korporasi buyback tidak memberikan dampak negatif material terhadap kegiatan operasional maupun posisi keuangan perusahaan. Tingkat permodalan dan arus kas dinilai masih sangat memadai untuk mendukung ekspansi serta operasional ke depan.
Dari sisi akuntansi dan metrik keuangan:
-
Total Aset & Ekuitas: Mengalami penyusutan sesuai besarnya dana kas internal yang dialihkan menjadi saham treasuri (treasury stock).
-
Laba Bersih: Tidak mengalami perubahan signifikan.
-
Laba Per Saham (EPS): Justru berpotensi meningkat. Kenaikan EPS ini mencerminkan dampak berkurangnya jumlah saham beredar (outstanding shares) yang menjadi pembagi dalam perhitungan laba per saham.
Kesimpulan untuk Investor
Langkah buyback senilai Rp2,25 triliun oleh Grup Salim menunjukkan komitmen emiten dalam menjaga stabilitas harga saham sekaligus mencerminkan kesehatan fundamental serta kecukupan likuiditas kas internal. Bagi para investor, aksi korporasi ini dapat menjadi sinyal positif terhadap valuasi jangka panjang, meskipun pergerakan harga saham tetap perlu dicermati berdasarkan kondisi makroekonomi dan sentimen pasar yang berlaku.

